Sejarah Indonesia

Sejarah Indonesia



PERKEMBANGAN

KERAJAAN SAMUDERA PASAI
A.    Proses berkembangnya kerajaan samudra pasai di segala bidang
Dengan timbulnya kerajaan samudra pasai maka kesultanan perlak mengalami kemunduran. Samudra pasai tampil sebagai bandar dagang utama di pantai timur sumatra utara. Samudra pasai tidak hanya menjadi pusat perdagangan lada ketika itu, tetapi juga sebagai pusat pengembangan agama islam bermazhab syafi’i.
Pada masa pemerintahan sultan malik al saleh berkembanglah agama islam mazhab syafi’i. Awalnya sultan malik al saleh merupakan pemeluk syi’ah yang di bawa dari pedagang-pedagang gujarat yang datang ke indonesia pada abad 12. Pedagang-pedagang gujarat bersama-sama pedagang arab dan persia menetap di situ dan mendirikan kerajaan-kerajaan islam pertama di indonesia, yaitu kerajaan perlak di muara sungai perlak dan kerajaan samudra pasai di muara sungai pasai. Namun kemudian sultan malik al saleh berpindah menjadi memeluk islam bermazhab syafi’i atas bujukan syekh ismail yang merupakan utusan dinasti mameluk di mesir yang beraliran mazhab syafi’i. Pada masa pemerintahan sultan malik al saleh juga samudra pasai mendapat kunjungan dari marco polo.
1.      Kehidupan politik
                  Raja pertama samudra pasai sekaligus pendiri kerajaan adalah marah silu bergelar sultan malik al saleh, dan memerintah antara tahun 1285-1297. Pada masa pemerintahan sultan malik al saleh, kerajaan tersebut telah memiliki lembaga negara yang teratur dengan angkatan perang laut dan darat yang kuat, meskipun demikian, secara politik kerajaan Samudra Pasai masih berada dibawah kekuasaan Majapahit. Pada tahun 1295, Sulthan malik al saleh menunjuk anaknya sebagai raja, yang kemudian dikenal dengan Sultan Malik Al Zahir I (1297-1326), Pada masa pemerintahannya samudra pasai berhasail menaklukkan kerajaan islam Perlak.Setelah sultan Malik Al Zahir I mangkat, Pimpinan kerajaan diserahkan kepada Sultan ahmad laikudzahir yang bergelar Sulthan Malik Al Zahir II (1326-1348)
2.      Kehidupan Ekonomi
                  Karena letak geografisnya yang strategis, ini mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar – bandar yang digunakan untuk :
Ø  Menambah perbekalan untuk pelayaran selanjutnya
Ø  Mengurus soal – soal atau masalah – masalah perkapalan
Ø  Mengumpulkan barang – barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri
Ø  Menyimpan barang – barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia.
                        Tahun 1350 M merupakan masa puncak kebesaran kerajaan Majapahit, masa itu juga merupakan masa kebesaran Kerajaan Samudera Pasai. Kerajaan Samudera Pasai juga berhubungan langsung dengan Kerajaan Cina sebagai siasat untuk mengamankan diri dari ancaman Kerajaan Siam yang daerahnya meliputi Jazirah Malaka.Perkembangan ekonomi masyarakat Kerajaan Samudera Pasai bertambah pesat, sehingga selalu menjadi perhatian sekaligus incaran dari kerajaan – kerajaan di sekitarnya. Setelah Samudera Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka maka pusat perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka.
3.      Kehidupan Sosial
                  Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Samudera Pasai diatur menurut aturan – aturan dan okum – okum Islam. Dalam pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di negeri Mesir maupun di Arab. Karena persamaan inilah sehingga daerah Aceh mendapat julukan Daerah Serambi Mekkah.

B.     Puncak kejayaan Kerajaan Samudra Pasai
Puncak kejayaan kerajaan samudra pasai ini ditandai dengan adanya perkembangan dibidang-bidang kehidupan kerajaan Samudra pasai, seperti ;

1.      Di bidang perekonomian dan perdagangan
                  Dalam segi ekonomi perkembangan kerajaan Samudra Pasai ini ditandai dengan sudah adanya mata uang yang diciptakan sendiri untuk alat pembayaran yang terbuat dari emas, uang ini dinamakan Dirham. Selain itu, ditandai juga dengan berkembangnya Kerajaan Samudra Pasai menjadi pusat perdagangan internasional pada masa pemerintahan Sultan Malikul Dhahir, dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama. Saat itu Pasai diperkirakan mengekspor lada sekitar 8.000- 10.000 bahara setiap tahunnya, selain komoditas lain seperti sutra, kapur barus, dan emas yang didatangkan dari daerah pedalaman. Bukan hanya perdagangan ekspor-impor yang maju. Sebagai bandar dagang yang maju. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada. Pedagang -pedagang Jawa mendapat kedudukan yang istimewa di pelabuhan Samudera Pasai. Mereka dibebaskan dari pembayaran cukai.
2.      Di bidang sosial dan budaya
                  Kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Samudera Pasai diatur menurut aturan–aturan dan hukum – hukum Islam. Dalam pelaksanaannya banyak terdapat persamaan dengan kehidupan sosial masyarakat di negeri Mesir maupun di Arab. Karena persamaan inilah sehingga daerah Aceh mendapat julukan Daerah Serambi Mekkah. Kerajaan Samudera Pasai berkembang sebagai penghasil karya tulis yang baik.
                  Beberapa orang berhasil memanfaatkan huruf Arab yang dibawa oleh agama Islam untuk menulis karya mereka dalam bahasa Melayu, yang kemudian disebut dengan bahasa Jawi dan hurufnya disebut Arab Jawi. Di antara karya tulis tersebut adalah Hikayat Raja Pasai (HRP). Bagian awal teks ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1360 M. HRP menandai dimulainya perkembangan sastra Melayu klasik di bumi nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian juga digunakan oleh Syaikh Abdurrauf al-Singkili untuk menuliskan buku-bukunya. Selain itu juga berkembang ilmu tasawuf yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu.
3.      Di bidang agama
            Sesuai dengan berita dari Ibn Battutah tentang kehadiran ahli-ahli agama dari Timur Tengah, telah berperan penting dalam proses perkembangan Islam di Nusantara. Berdasarkan hal itu pula, diceritakan bahwa Sultan Samudra Pasai begitu taat dalam menjalankan agama Islam sesuai dengan Mahzab Syafi’I dan ia selalu di kelilingi oleh ahli-ahli teologi Islam. Dengan raja yang telah beragama Islam, maka rakyat pun memeluk Islam untuk menunjukan kesetiaan dan kepatuhannya kepada sang raja. Karena wilayah kekuasaan Samudra Pasai yang cukup luas, sehingga penyebaran agama Islam di wilayah Asia Tenggara menjadi luas.
4.      Di bidang politik
            Pada masa pemerintahan Sultan Malik as-Shalih telah terjalin hubungan baik dengan Cina. Diberitakan bahwa Cina telah meminta agar Raja Pasai untuk mengirimkan dua orang untuk dijadikan duta untuk Cina yang bernama Sulaeman dan Snams-ad-Din. Selain dengan Cina, Kerajaan Samudra Pasai juga menjalin hubungan baik dengan negeri-negeri Timur Tengah. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Malik az-Zahir, ahli agama mulai dari berbagai negeri di Timur Tengah salah satunya dari Persi (Iran) yang bernama Qadi Sharif Amir Sayyid dan Taj-al-Din dari Isfahan. Hubungan persahatan Kerajaan Samudra Pasai juga terjalin dengan Malaka bahkan mengikat hubungan perkawinan.

C.    Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai

1.      Faktor Interen Kemunduran Kerajaan Samudra Pasai
a.      Tidak Ada Pengganti yang Cakap dan Terkenal Setelah Sultan Malik At Thahrir
Kerajaan Samudera Pasai mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Malik At Tahrir, sistem pemerintahan Samudera Pasai sudah teratur baik, Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan internasional. Pedagang-pedagang dari Asia, Afrika, China, dan Eropa berdatangan ke Samudera Pasai. Hubungan dagang dengan pedagang-pedagang Pulau Jawa juga terjalin erat. Produksi beras dari Jawa ditukar dengan lada.
Setelah Sultan Malik At Tahrir wafat tidak ada penggantinya yang cakap dalam meminmpin kerajaan Samudra Pasai dan terkenal, sehingga peran penyebaran agama Islam diambil alih oleh kerajaan Aceh.
Kerajaan Samudera Pasai semakin lemah ketika di Aceh berdiri satu lagi kerajaan yang mulai merintis menjadi sebuah peradaban yang besar dan maju. Pemerintahan baru tersebut yakni Kerajaan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah.
Kesultanan Aceh Darussalam sendiri dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Aceh pada masa pra Islam, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura. Pada 1524, Kerajaan Aceh Darussalam di bawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah menyerang Kesultanan Samudera Pasai. Akibatnya, pamor kebesaran Kerajaan Samudera Pasai semakin meredup sebelum benar-benar runtuh. Sejak saat itu, Kesultanan Samudera Pasai berada di bawah kendali kuasa Kesultanan Aceh Darussalam.
b.      Terjadi Perebutan kekuasaan
 Pada tahun 1349 Sultan Ahmad Bahian Syah malik al Tahir meninggal dunia dan digantikan putranya yang bernama Sultan Zainal Abidin Bahian Syah Malik al-Tahir. Bagaimana pemerintahan Sultan Zainal Abidin ini tidak banyak diketahui. Rupanya menjelang akhir abad ke-14 Samudra Pasai banyak diliputi suasana kekacauan karenaa terjadinya perebutan kekuasaan, sebagai dapat diungkap dari berita-berita Cina. Beberapa faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan Samudra Pasai, yaitu pemberontakan yang dilakukan sekelompok orang yang ingin memberontak kepada pemerintahan kerajaan Samudra Pasai.
Karena pemberontakan ini, menyebabkan beberapa pertikaian di Kerajaan Samudra Pasai. Sehingga terjadilah perang saudara yang membuat pertumpahan darah yang sia-sia. Untuk mengatasi hal ini, Sultan Kerajaan Samudra Pasai waktu itu melakukan sesuatu hal yang bijak, yaitu meminta bantuan kepada Sultan Malaka untuk segera menengahi dan meredam pemberontakan. Namun Kesultanan Pasai sendiri akhirnya runtuh setelah ditaklukkan oleh Portugal tahun1521 yang sebelumnya telah menaklukan Malaka tahun 1511, dan kemudian tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh.
2.     Faktor Eksteren kemunduran Kerajaan Samudra Pasai
a.      Serangan dari Majapahit Tahun 1339
            Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai mengalami ancaman dari Kerajaan Majapahit dengan Gajah Mada sebagai mahapatih. Gajah Mada diangkat sebagai patih di Kahuripan pada periode 1319-1321 Masehi oleh Raja Majapahit yang kala itu dijabat oleh Jayanegara. Pada 1331, Gajah Mada naik pangkat menjadi Mahapatih ketika Majapahit dipimpin oleh Ratu Tribuana Tunggadewi. Ketika pelantikan Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit inilah keluar ucapannya yang disebut dengan Sumpah Palapa, yaitu bahwa Gajah Mada tidak akan menikmati buah palapa sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
            Mahapatih Gajah Mada rupanya sedikit terusik mendengar kabar tentang kebesaran Kerajaan Samudera Pasai di seberang lautan sana. Majapahit khawatir akan pesatnya kemajuan Kerajaan Samudera Pasai. Oleh karena itu kemudian Gajah Mada mempersiapkan rencana penyerangan Majapahit untuk menaklukkan Samudera Pasai. Desas-desus tentang serangan tentara Majapahit, yang menganut agama Hindu Syiwa, terhadap kerajaan Islam Samudera Pasai santer terdengar di kalangan rakyat di Aceh.
                  Ekspedisi Pamalayu armada perang Kerajaan Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada memulai aksinya pada 1350 dengan beberapa tahapan. Serangan awal yang dilakukan Majapahit di perbatasan Perlak mengalami kegagalan karena lokasi itu dikawal ketat oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Namun, Gajah Mada tidak membatalkan serangannya. Ia mundur ke laut dan mencari tempat lapang di pantai timur yang tidak terjaga. Di Sungai Gajah, Gajah Mada mendaratkan pasukannya dan mendirikan benteng di atas bukit, yang hingga sekarang dikenal dengan nama Bukit Meutan atau Bukit Gajah Mada.
                  Gajah Mada menjalankan siasat serangan dua jurusan, yaitu dari jurusan laut dan jurusan darat. Serangan lewat laut dilancarkan terhadap pesisir di Lhokseumawe dan Jambu Air. Sedangkan penyerbuan melalui jalan darat dilakukan lewat Paya Gajah yang terletak di antara Perlak dan Pedawa. Serangan dari darat tersebut ternyata mengalami kegagalan karena dihadang oleh tentara Kesultanan Samudera Pasai. Sementara serangan yang dilakukan lewat jalur laut justru dapat mencapai istana.
                  Selain alasan faktor politis, serangan Majapahit ke Samudera Pasai dipicu juga karena faktor kepentingan ekonomi. Kemajuan perdagangan dan kemakmuran rakyat Kerajaaan Samudera Pasai telah membuat Gajah Mada berkeinginan untuk dapat menguasai kejayaan itu. Ekspansi Majapahit dalam rangka menguasai wilayah Samudera Pasai telah dilakukan berulangkali dan Kesultanan Samudera Pasai pun masih mampu bertahan sebelum akhirnya perlahan-lahan mulai surut seiring semakin menguatnya pengaruh Majapahit di Selat Malaka.
                  Hingga menjelang abad ke-16, Kerajaan Samudera Pasai masih dapat mempertahankan peranannya sebagai bandar yang mempunyai kegiatan perdagangan dengan luar negeri. Para ahli sejarah yang menumpahkan minatnya pada perkembangan ekonomi mencatat bahwa Kerajaan Samudera Pasai pernah menempati kedudukan sebagai sentrum kegiatan dagang internasional di nusantara semenjak peranan Kedah berhasil dipatahkan.
                  Namun, kemudian peranan Kerajaan Samudera Pasai yang sebelumnya sangat penting dalam arus perdagangan di kawasan Asia Tenggara dan dunia mengalami kemerosotan dengan munculnya bandar perdagangan Malaka di Semenanjung Melayu Bandar Malaka segera menjadi primadona dalam bidang perdagangan dan mulai menggeser kedudukan Pasai. Tidak lama setelah Malaka dibangun, kota itu dalam waktu yang singkat segera dibanjiri perantau-perantau dari Jawa.
                  Akibat kemajuan pesat yang diperoleh Malaka tersebut, posisi dan peranan Kerajaan Samudera Pasai kian lama semakin tersudut, nyaris seluruh kegiatan perniagaannya menjadi kendor dan akhirnya benar-benar patah di tangan Malaka sejak tahun 1450. Apalagi ditambah kedatangan Portugis yang berambisi menguasai perdagangan di Semenanjung Melayu. Orang-orang Portugis yang pada 1521 berhasil menduduki Kesultanan Samudera Pasai.
b.      Berdirinya Bandar Malaka yang Letaknya Lebih Strategis
                  Tercatat, selama abad 13 sampai awal abad 16, Samudera Pasai dikenal sebagai salah satu kota di wilayah Selat Malaka dengan bandar pelabuhan yang sangat sibuk. Pasai menjadi pusat perdagangan internasional dengan lada sebagai salah satu komoditas ekspor utama.
                  Letak geografis kerajaan samudera pasai terletak di Pantai Timur Pulau Sumatera bagian utara berdekatan dengan jalur pelayaran internasional (Selat Malaka). Letak Kerajaan Samudera Pasai yang strategis, mendukung kreativitas mayarakat untuk terjun langsung ke dunia maritim. Samudera pasai juga mempersiapkan bandar – bandar yang digunakan untuk:
Ø  Menambah perbekalan pelayaran selanjutnya
Ø  Mengurus masalah – masalah perkapalan
Ø  Mengumpulkan barang – barang dagangan yang akan dikirim ke luar negeri
Ø  Menyimpan barang – barang dagangan sebelum diantar ke beberapa daerah di Indonesia.
Setelah kerajaan Samudra Pasai dikuasai oleh Kerajaan Malaka pusat  perdagangan dipindahkan ke Bandar Malaka. Dengan beralihnya pusat perdagangan ke Bandar Malaka maka perekonomian di Bandar Malaka menjadi ramai karena letaknya yang lebih strategis dibanding bandar-bandar di Samudra Pasai.
c.       Serangan Portugis
                  Orang-orang Portugis memanfaatkan keadaan kerajaan Samudra Pasai yang sedang lemah ini karena adanya berbagai perpecahan (kemungkinan karena politik / kekuasaan) dengan menyerang kerajaan Samudra Pasai hingga akhirnya kerajaan Samudra Pasai runtuh. Sebelumnya memang orang-orang Portugis telah menaklukan kerajaan Malaka, yang merupakan kerajaan yang sering membantu kerajaan Samudra Pasai dan menjalin hubungan dengan kerajaan Samudra Pasai.
                  Orang-orang Portugis datang ke Malaka, karena telah mengetahui bahwa pelabuhan Malaka merupakan pelabuhan transito yang banyak didatangi pedagang dari segala penjuru angin. Malaka dikenal sebagai pintu gerbang Nusantara. Julukan itu diberikan mengingat peranannya sebagai jalan lalu lintas bagi pedagang-pedagang asing yang hendak masuk dan keluar pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Malaka pada akhir abad ke-15 dikunjungi oleh para saudagar yang datang dari Arab, India, Asia Tenggara dan saudagar-saudagar Indonesia. Hal ini sangat menarik perhatian orang-orang Portugis.
      Maksud Portugis untuk menduduki Malaka adalah untuk menguasai perdagangan melalui selat Malaka.Kedatangan orang-orang Portugis di bawah pimpinan Diego Lopez de Squeira ke Malaka atas perintah raja Portugis, bertujuan untuk membuat perjanjian-perjanjian dengan penguasa-penguasa di Malaka. Perjanjian-perjanjian ini dimaksudkan untuk memperoleh suatu izin perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak.
Makasih.Always Looking For.
Tugas Ekonomi Peminatan

Tugas Ekonomi Peminatan


1. Apa yang di maksud dengan sistem pembayaran? 
Sistem Pembayaran adalah sistem yang berkaitan dengan pemindahan sejumlah nilai uang dari satu pihak ke pihak lain. 
2. Sebutkan komponen2 yg membentuk sistem pembayaran.
Komponen-komponen yang membangun sebuah sistem pembayaran terdiri dari :
·   Regulator berwenang mengatur aturan main, ketentuan, dan kebijakan yang mengikat seluruh komponen sistem pembayaran.
·   Penyelenggara adalah lembaga yang memastikan penyelesaian akhir dari seluruh transaksi yang terjadi di penggunanya.
·   Infrastrukur adalah sarana fisik yang mendukung operasional sistem pembayaran.
·   Instrumen adalah alat pembayaran baik tunai maupun non-tunai yang disepakati oleh para pengguna dalam melakukan transaksi.
·   Pengguna adalah konsumen yang memanfaatkan Sistem Pembayaran.
3. Sebutkan peran sistem pembayaran dalam perekonomian.
Peran Sistem Pembayaran dalam Perkonomian
Menjamin kelancaran pasar sebagai tempat transaksi terjadi.
Membantu menentukan seberapa efisien transaksi dilakukan dan diselesaikan
Mempengaruhi tingkat dan laju pertumbuhan ekonomi serta efisiensi pasar keuangan
Elemen penting dalam infrastruktur keuangan untuk mendukung terciptanya stabilitas sistem keuangan
4. Sebutkan lembaga yang memproses sistem pembayaran di indonesia.
 Peran Bank Indonesia dalam Sistem Pembayaran
Tujuan Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Yang berwenang mengeluarkan, mengedarkan, mencabut, menarik, dan memusnahkan uang rupiah dari peredaran.
Penyelenggaraan Sistem Pembayaran Nontunai melalui sistem BI-RTGS ( Real Time Gross Settlement). Sistem ini merupakan transfer dana elektronik dari satu bank kepada bank lain dalam mata uang rupiah, yang penyelesaiannya dilakukan secara seketika per transaksi secara individual.
5. Jelaskan proses evolusi dari sistem pembayaran barter ke sistem pembayaran e-commerce.
Evolusi Sistem Pembayaran
Sistem pembayaran mengikuti tahapan perkembangan ekonomi.
Sistem Barter (Primitif)
Uang Komoditas
Uang Fiat
Cek dalam Sistem Pembayaran
E-Money
E-Commerce
Evolusi Alat Pembayaran
Dahulu alat pembayaran yang kita kenal adalah barter, yaitu kegiatan tukar menukar barang atau jasa tanpa perantara uang. Jika menengok ke belakang yakni awal mula alat pembayaran itu dikenal dengan sistem barter antar barang yang diperjualbelikan adalah kelaziman di era pra-moderen. Alat pembayaran dapat dikatakan berkembang sangat pesat dan maju apabila dalam perkembangannya, mulai dikenal satuan tertentu yang memiliki nilai pembayaran yang lebih dikenal dengan uang. Hingga saat ini uang masih menjadi salah satu alat pembayaran utama yang berlaku di masyarakat Indonesia hingga saat ini. Kemudian alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran nontunai (non cash) seperti alat pembayaran berbasis kertas (paper based), misalnya, cek dan bilyet giro. Selain itu dikenal juga alat pembayaran paperless seperti transfer dana elektronik dan alat pembayaran memakai kartu (card-based) (ATM, Kartu Kredit, Kartu Debit dan Kartu Prabayar).
6. Sebutkan usaha Bank Indonesia dalam mengendalikan risiko sistem pembayaran.
Risiko dalam Sistem Pembayaran dan Pengendaliannya
Risikonya yaitu ketergantungan sistem transfer dana elektronik terhadap kehandalan infrastruktur jaringan komunikasi. Kinerja yang kurang baik dari jaringan komunikasi dapat menimbulkan risiko oprasional yang berpotensi memperlambat mekanisme settlement dana.
- Pengendaliannya oleh Bank Indonesia :
Merumuskan dan menetapkan kebijakan, baik yang dituangkan dalam bentuk apapun.
Memberikan izin penyelenggara sistem pembayaran
Konsultasi dan fasilitasi pada penyelenggara sistem pembayaran
Melakukan Pengawasan kepada penyelenggara sistem pembayaran untuk menilai kesesuaian sistem yang dikelolanya.
Melakukan sosialisasi dan edukasi
Uang sebagai Alat Pembayaran
7. Apa yang di maksud dengan cek digital?
Cek digital yang dalam pengunaan nya mengunakan alat alat elektronik
8. Apa yang di maksud dengan dompet digital?
Dompet digital merupan perangkat lunak komputer yg digunakan untuk menyimpan rincian rekening bank alamat nama yang memungkinkan orang untuk melakukan pembayaran otomatis
9. Sebutkan jenis2 uang berdasarkan:
a. Pihak yang mengeluarkan.
Jenis Uang Berdasarkan Pihak yang Mengeluarkan
Berdasarkan Pihak yang Mengeluarkan, uang dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :
A.   Uang Kartal :
Uang Kertas atau Uang Logam yang dikeluarkan & diatur peredarannya oleh Pemerintah serta merupakan alat pembayaran yang sah. 
B. Uang Giral :
Alat Pembayaran berupa Cek, Bilyet Giro, dan sejenisnya yang dikeluarkan oleh Bank serta merupakan alat pembayaran.
b. Bahan uang.
Berdasarkan Bahan, uang dapat dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :
A.   Uang Logam :
Uang yang bahannya terbuat dari logam berupa emas, perak, atau logam lainnya yang beredar sebagai alat pembayaran.
B. Uang Kertas :
Uang yang bahannya terbuat dari kertas serta penggunaanya diatur oleh undang – undang dan kebiasaan serta sebagai alat pembayaran.
10. Sebutkan jenis2 berdasarkan:
a. Negara yang mengeluarkan.
 Jenis Uang Berdasarkan Negara yang Mengeluarkan
Berdasarkan Negara yang Mengeluarkan, uang dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :
A.   Uang Dalam Negeri :       
Uang yang dikeluarkan suatu Negara yang bersangkutan. Contohnya : Rupiah adalah uang yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia.
B.   Uang Luar  Negeri :
Uang yang beredar dalam suatu Negara, tetapi yang mengeluarkannya Negara lain. Contohnya : Yen(Jepang), Dollar(Amerika Serikat), Ringgit (Malaysia), Poundsterling(Inggris),dan sebagainya. Uang luar negeri disebut juga Valuta Asing.
b. Nilai uang.
 Jenis Uang Berdasarkan Nilai Uang
Berdasarkan Perbandingan Nilai Bahan dengan Nilai Tukar, Uang dibedakan jadi 2 jenis, yaitu :
A.   Nilai Penuh :
Uang yang nilai bahannya (nilai Intrinsiknya) sama dengan nilai nominal atau nilai penuh yang terdapat pada standar emas. Misalnya 5 Gram emas, maka nilai uang itu dalam pertukaran juga seharga  emas 5 Gram.
B.   Nilai Tidak Penuh:
Uang yang nilai bahannya (nilai Intrinsiknya)lebih kecil daripada nilai nominalnya dan umumnya berupa uang kertas. Misalnya Uang yang kamu pegang Rp 10.000,- mungkin nilai bahannya hanya Rp 200,-.





Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia


Kritik dan Humor dalam Layanan Publik

Sumber : Kemendikbud
Kalian telah belajar mengemukakan
pendapat di ruang publik pada pelajaran
terdahulu. Pada pelajaran ini kalian
diharapkan mengetahui lebih jauh bahwa
ruang publik berisi berbagai kegiatan
layanan publik atau layanan umum untuk
mengupayakan pemenuhan kebutuhan
masyarakat dalam rangka melaksanakan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
Layanan publik itu diatur oleh Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang
Pelayanan Publik. Dalam undang-undang
itu, istilah yang digunakan untuk layanan
publik adalah pelayanan publik. Pada
pelajaran ini, kedua istilah itu digunakan
secara bergantian.Untuk mendapatkan
pemahaman tentang pelayanan publik,
marilah kita cermati terlebih dahulu
beberapa pengertian berikut ini. Perhatikan
bagian yang dicetak tebal. Kata-kata itu
merupakan kata-kata kunci dalam
pembicaraan tentang layanan publik.
(1) Pelayanan publik merupakan kegiatan
atau rangkaian kegiatan dalam rangka
pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan
bagi setiap warga negara dan penduduk
atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif yang disediakan oleh
penyelenggara pelayanan publik.
(2) Penyelenggara pelayanan publik atau
Penyelenggara merupakan setiap
institusi penyelenggara negara,
korporasi, lembaga independen yang
dibentuk berdasarkan undang-undang
untuk kegiatan pelayanan publik dan
badan hukum lain yang dibentuk
semata-mata untuk kegiatan pelayanan
publik.
(3)  Pelaksana pelayanan publik atau
Pelaksana merupakan pejabat, pegawai,
petugas, dan setiap orang yang bekerja
di dalam organisasi penyelenggara yang
bertugas melaksanakan tindakan atau
serangkaian tindakan pelayanan publik.
(4) Masyarakat merupakan seluruh pihak,
baik warga negara atau penduduk sebagai
orang-perseorangan, kelompok maupun
badan hukum yang berkedudukan sebagai
penerima manfaat pelayanan publik, baik
secara langsung maupun tidak langsung.
(Diolah dari http://prokum.esdm.go.id/
uu/2009/UU%2025%202009.pdf )
Layanan publik sering mendapatkan kritik
atau menjadi bahan lelucon yang membuat
gelak tawa. Kritik atau lelucon itu dapat
disampaikan melalui anekdot. Pada
pelajaran ini, kalian akan diajak untuk
menyelami bahasa dalam anekdot yang
digunakan untuk menyampaikan kritik atau
lelucon di bidang layanan publik. Bidang-
bidang yang tercakup dalam layanan publik
amat luas, antara lain hukum, sosial,
politik, budaya, pendidikan, lingkungan,
administrasi, dan transportasi. Akan tetapi,
tidak semua bidang itu akan dibicarakan
pada pelajaran ini.
Anekdot ialah cerita singkat yang menarik
karena lucu dan mengesankan, biasanya
mengenai orang penting atau terkenal dan
berdasarkan kejadian yang sebenarnya. Ada
pengertian lain bahwa anekdot dapat
merupakan cerita rekaan yang tidak harus
didasarkan pada kenyataan yang terjadi di
masyarakat. Yang menjadi partisipan atau
pelaku di dalamnya pun tidak harus orang
penting. Selain itu, teks anekdot juga dapat
berisi peristiwa-peristiwa yang membuat
jengkel atau konyol bagi partisipan yang
mengalaminya. Perasaan jengkel dan konyol
seperti itu merupakan krisis yang
ditanggapi dengan reaksi dari pertentangan
antara nyaman dan tidak nyaman, puas dan
frustrasi, serta tercapai dan gagal. Selama
pelajaran ini berlangsung, kalian diminta
untuk melakanakan tugas tambahan
membaca buku. Carilah buku yang berisi
kritik dan humor mengenai layanan publik.
Bacalah buku itu dan tuliskanlah hasil baca
buku kalian.
Di bawah ini teks anekdot yang akan kita
jadikan pembicaraan berkenaan dengan
layanan publik di bidang hukum, sosial,
politik, dan lingkungan. Kalian diharapkan
dapat memahami teks anekdot dan dapat
memanfaatkannya sebagai sarana untuk
menyampaikan kritik terhadap persoalan-
persoalan pada bidang layanan tersebut.
Untuk itu, kerjakanlah tugas-tugas yang
diberikan sesuai dengan petunjuk.
Bacalah teks yang berjudul “KUHP dalam
Anekdot” berikut ini. Sebelum membacanya,
kerjakanlah beberapa tugas berikut ini
sesuai dengan petunjuk. Apabila ada
pertanyaan yang belum terjawab, tinggalkan
terlebih dahulu, lalu kembalilah ke
pertanyaan tersebut setelah kalian
membaca teksnya!
(1) Teks anekdot mengandung unsur lucu.
Betulkah setiap cerita lucu dapat
digolongkan ke dalam anekdot?
(2) Lawak juga mengandung unsur lucu.
Apakah teks anekdot sama dengan teks
lawak?
Kalian diharapkan dapat memahami teks
anekdot dan dapat memanfaatkannya
sebagai sarana untuk
menyampaikan kritik terhadap persoalan-
persoalan pada bidang-bidang layanan
tersebut. Layanan publik sering
mendapatkan kritik atau menjadi bahan
lelucon. Kritik atau lelucon itu dapat
disampaikan melalui anekdot.
(3) Siapakah yang biasanya menjadi tokoh
atau partisipan dalam anekdot? Apakah
tokoh atau partisipan yang dimaksud harus
selalu orang yang terkenal?
(4) Di media apa sajakah teks anekdot
ditemukan? Sebutkan jenis medianya dan
contoh anekdot yang dimaksud!
(5) Contoh anekdot berikut ini terjadi di
bidang hukum. Di bidang apa sajakah
kalian dapat menemukan teks anekdot?
1   Seorang dosen fakultas hukum suatu
universitas sedang memberikan kuliah
hukum pidana. Suasana kelas biasa-biasa
saja.
2   Saat sesi tanya-jawab tiba, Ali bertanya
kepada pak dosen. “Apa kepanjangan
KUHP, Pak?” Pak dosen tidak menjawab
sendiri, melainkan melemparkannya kepada
Ahmad. “Saudara Ahmad, coba dijawab
pertanyaan Saudara Ali tadi,” pinta pak
dosen. Dengan tegas Ahmad menjawab,
“Kasih Uang Habis Perkara, Pak …!”
3   Mahasiswa lain tentu tertawa,
sedangkan pak dosen hanya menggeleng-
gelengkan kepala seraya menambahkan
pertanyaan kepada Ahmad, “Saudara
Ahmad, dari mana Saudara tahu jawaban
itu?” Dasar Ahmad,
pertanyaan pak dosen dijawabnya dengan
tegas, “Peribahasa Inggris mengatakan
pengalaman adalah guru yang terbaik, Pak
…!” Semua mahasiswa di kelas itu
tercengang. Mereka berpandang-
pandangan. Lalu,
mereka tertawa terbahak-bahak.
4   Gelak tawa mereda. Kelas kembali
berlangsung normal.
(Diadaptasi dari http://
fuadusfa4.blogspot.com/2010/02/anekdot-
hukum.html)
Setelah kalian membaca teks “KUHP dalam
Anekdot”, jawablah pertanyaan-pertanyaan
berikut ini!
(1) Apakah yang membuat teks tersebut
digolongkan ke dalam teks anekdot?
(2) Ciri-ciri apa sajakah yang menandai
teks anekdot?
(3) Siapakah partisipan yang digambarkan
dalam anekdot itu? 113 Bahasa Indonesia
Ekspresi Diri dan Akademik
(4) Apakah cerita pada anekdot itu betul-
betul terjadi atau hanya rekaan?
(5) Seandainya cerita itu betul-betul
terjadi, beranikah mahasiswa menjawab
pertanyaan dosennya dengan tidak serius?
(6) Singkatan KUHP pada anekdot di atas
dipelesetkan. Apakah maksud dan pesan
teks yang dikandung?
(7) Diskusikan secara berkelompok siapa
sebenarnya yang dikritik lewat sindiran
dalam teks tersebut!
(8) Apakah sindiran itu sampai kepada
yang dituju?
(9) Tunjukkan unsur lucu atau konyol yang
terdapat di dalam teks tersebut.
(10) Jelaskan reaksi yang terjadi pada diri
dosen dan pada diri mahasiswa.
Kerjakanlah tugas-tugas berikut ini sesuai
dengan petunjuk yang diberikan!
(1) Identifikasilah struktur teks anekdot
yang telah kalian baca tersebut.
Bandingkan hasilnya dengan struktur
teks berikut ini yang meliputi
abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^koda!
Koda Kelas kembali berlangsung normal
(paragraf 4).
Reaksi
Mahasiswa tercengang dan tertawa,
sedangkan dosen menggeleng-gelengkan
kepala (paragraf 3).
Krisis
KUHP dipelesetkan menjadi “Kasih Uang
Habis
Perkara” (paragraf 2).
Orientasi Suasana kelas biasa-biasa saja
(paragraf 1).
Abstraksi
Seorang dosen memberikan kuliah Hukum
Pidana (paragraf 1).
(2) Apakah abstraksi itu sama dengan
pembukaan? Berfungsi sebagai apakah
abstraksi itu?
(3) Apakah orientasi berfungsi untuk
membangun konteks perkuliahan?
(4) Seandainya krisis dimaknai sebagai
saat terjadinya ketidakpuasan atau
kejanggalan, ketidakpuasan atau
kejanggalan tentang apa yang dimaksud?
(5) Setujukah kalian reaksi itu berkenaan
dengan tanggapan yang diberikan oleh
mahasiswa atau dosen tentang pelesatan
KUHP itu?
(6) Berikan penjelasan seandainya kalian
tidak setuju bahwa koda sama dengan
penutup. Pikirkan bahwa penutup
menggambarkan situasi yang seimbang
dengan situasi pada orientasi.
Bacalah teks “Anekdot Hukum Peradilan”
berikut ini dan kerjakan tugas-tugas yang
diminta!
1 Pada zaman dahulu di suatu negara
(yang pasti bukan negara kita) ada seorang
tukang pedati yang rajin
dan tekun. Setiap pagi dia membawa
barang dagangan ke pasar dengan
pedatinya. Suatu pagi dia melewati
jembatan yang baru dibangun. Namun
sayang, ternyata kayu yang dibuat untuk
jembatan tersebut tidak kuat. Akhirnya,
tukang pedati itu jatuh ke sungai. Kuda
beserta dagangannya hanyut.
2 Si Tukang Pedati dan keluarganya tidak
terima karena mendapat kerugian gara-gara
jembatan yang rapuh. Kemudian, mereka
melaporkan kejadian itu kepada hakim
untuk mengadukan si Pembuat Jembatan
agar dihukum dan Sumber: http://
www.golddinarjameela.com/2012/03/ber-
muammalah-dengan-timbangan-yang.html
Gambar 4.2 Timbangan sebagai simbol
keadilan115 Bahasa Indonesia Ekspresi Diri
dan Akademik
memberi uang ganti rugi. Zaman dahulu
orang dapat melapor langsung ke hakim
karena belum ada polisi.
3 Permohonan keluarga si Tukang Pedati
dikabulkan. Hakim memanggil si Pembuat
Jembatan untuk diadili. Namun, si Pembuat
Jembatan tentu protes dan tidak terima. Ia
menimpakan kesalahan kepada tukang kayu
yang
menyediakan kayu untuk bahan jembatan
itu. Kemudian, hakim memanggil si Tukang
Kayu.
4 Sesampainya di hadapan hakim, si
Tukang Kayu bertanya kepada hakim, “Yang
Mulia Hakim, apa kesalahan hamba
sehingga hamba dipanggil ke persidangan?”
Yang Mulia Hakim menjawab, “Kesalahan
kamu sangat
besar. Kayu yang kamu bawa untuk
membuat jembatan itu ternyata jelek dan
rapuh sehingga menyebabkan seseorang
jatuh dan kehilangan pedati beserta
kudanya. Oleh karena itu, kamu harus
dihukum dan mengganti
segala kerugian si Tukang Pedati.” Si
Tukang Kayu membela diri, “Kalau itu
permasalahannya, ya, jangan salahkan
saya, salahkan saja si Penjual Kayu yang
menjual kayu yang jelek.” Yang Mulia
Hakim berpikir, “Benar juga apa
yang dikatakan si Tukang Kayu ini. Si
Penjual Kayu inilah yang menyebabkan
tukang kayu membawa kayu yang jelek
untuk si Pembuat Jembatan.” Lalu, hakim
berkata kepada pengawalnya, “Hai
pengawal, bawa si Penjual Kayu
kemari untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya!” Pergilah si Pengawal
menjemput si Penjual Kayu.
5 Si Penjual Kayu dibawa oleh pengawal
tersebut ke hadapan hakim. “Yang Mulia
Hakim, apa kesalahan hamba sehingga
dibawa ke sidang pengadilan ini?” kata si
Penjual Kayu. Sang Hakim menjawab,
“Kesalahanmu sangat
besar karena kamu tidak menjual kayu yang
bagus kepada si Tukang Kayu
sehingga jembatan yang dibuatnya tidak
kukuh dan menyebabkan seseorang
kehilangan kuda dan barang dagangannya
dalam pedati.”  Si Penjual Kayu menjawab,
“Kalau itu permasalahannya, jangan
menyalahkan saya. Yang salah pembantu
saya. Dialah yang menyediakan beragam
jenis kayu untuk dijual. Dialah yang salah
memberi kayu yang jelek kepada si Tukang
Kayu
itu.” Benar juga apa yang dikatakan si
Penjual Kayu itu. “Hai pengawal bawa si
Pembantu ke hadapanku!” Maka si
Pengawal pun menjemput si Pembantu.
6 Seperti halnya orang yang telah
dipanggil terlebih dahulu oleh hakim, si
Pembantu pun bertanya kepada hakim
perihal kesalahannya. Sang Hakim memberi
penjelasan tentang kesalahan si Pembantu
yang menyebabkan
tukang pedati kehilangan kuda dan
dagangannya sepedati. Si Pembantu tidak
secerdas tiga orang yang telah dipanggil
terlebih dahulu sehingga ia tidak bisa
memberi alasan yang memuaskan sang
Hakim. Akhirnya, sang
Hakim memutuskan si Pembantu harus
dihukum dan memberi ganti rugi.
Berteriaklah sang Hakim kepada pengawal,
“Hai, Pengawal, masukkan si Pembantu ini
ke penjara dan sita semua uangnya
sekarang juga!”
7 Beberapa menit kemudian, sang Hakim
bertanya kepada si Pengawal, ”Hai,
Pengawal apakah hukuman sudah
dilaksanakan?” Si Pengawal menjawab,
”Belum, Yang Mulia, sulit sekali untuk
melaksanakannya.” Sang Hakim
bertanya, “Mengapa sulit? Bukankah kamu
sudah biasa memenjarakan dan menyita
uang orang?” Si Pengawal menjawab, “Sulit,
Yang Mulia. Si Pembantu badannya terlalu
tinggi dan gemuk. Penjara yang kita punya
tidak
muat karena terlalu sempit dan si
Pembantu itu tidak punya uang untuk
disita.” Sang Hakim marah besar, “Kamu
bego amat! Gunakan dong akalmu, cari
pembantu si Penjual Kayu yang lebih
pendek, kurus, dan punya uang!”
Kemudian, si Pengawal mencari pembantu
si Penjual Kayu yang lain yang berbadan
pendek, kurus, dan punya uang.
8 Si Pembantu yang berbadan pendek,
kurus, dan punya uang bertanya kepada
hakim, “Wahai, Yang Mulia Hakim. Apa
kesalahan hamba sehingga harus
dipenjara?” Dengan entengnya sang Hakim
menjawab, “Kesalahanmu adalah pendek,
kurus, dan punya uaaaaang!!!!”
9 Setelah si Pembantu yang berbadan
pendek, kurus, dan punya uang itu
dimasukkan ke penjara dan uangnya disita,
sang Hakim bertanya kepada khalayak
ramai yang menyaksikan pengadilan
tersebut, ”Saudara-saudara
semua, bagaimanakah menurut pandangan
kalian, peradilan ini sudah adil?”
Masyarakat yang ada serempak menjawab,
“Adiiill!!!” (Diadaptasi dari http://
politik.kompasiana.com/2009/11/30/
anekdot-peradilan-20551.html)
(1) Teks anekdot itu panjang, tetapi
struktur teksnya sederhana dan sama
dengan struktur teks anekdot sebelumnya.
Struktur teks itu adalah
abstraksi^orientasi^krisis^reaksi^koda.
Untuk mengidentifikasi struktur teks anekdot
tersebut, lengkapilah titik-titik pada
diagram berikut ini dengan hanya
menuliskan satu atau dua kalimat pendek.
Sertakan juga nomor paragraf tempat
kalimat-kalimat tersebut berasal.
Koda
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Reaksi
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Krisis
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Orientasi
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
Abstraksi
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ..... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
(2) Partisipan yang terlibat pada
anekdot tersebut adalah partisipan
manusia, seperti yang mulia hakim.
Partisipan manusia yang lain adalah:
(a) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ...
(b) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ...
(c) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ...
(d) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ...
(e) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ...
(f)  ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ... .
(3) Dalam teks anekdot itu tidak terdapat
unsur lucu, tetapi menggambarkan
kekonyolan bahwa orang yang tidak
bersalah dihukum dan dimasukkan ke
penjara. Mengapa si Pembantu yang kurus
dan pendek dihukum dan dipenjara, tetapi si
Pembantu yang gemuk dan tinggi tidak?
4)  Dalam teks anekdot itu terkandung
sindiran, yaitu keputusan yang tidak adil
dikatakan adil. Siapa yang disindir?
(5) Betulkah sindiran itu dapat
diungkapkan dengan pengandaian? Salah
satu pengandaian yang ditemukan dalam
teks anekdot di atas adalah bahwa
peradilan itu dilaksanakan di suatu negara,
bukan di negara kita. Pengandaian yang
lain adalah:
(a) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...  .
.. ... ... ...
(b) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... .. ... ... ... ... ... ... ... ... ... . .
.. ... ...
(c) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... .. ... ... ... ... ... ... ... ... ... . .
.. ... ...
(d) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ...
(6) Betulkah sindiran itu dapat
diungkapkan dengan lawan kata
(antonim)? Dua contoh lawan kata yang
digunakan pada anekdot tersebut adalah
adil–tidak adil dan benar–salah.
Maksudnya adalah bahwa sesuatu yang
tidak adil dikatakan sebagai sesuatu
yang adil dan sesuatu yang salah
dikatakan sebagai sesuatu yang benar
atau sebaliknya. Contoh lawan kata yang
lain adalah sebagai berikut.
(a) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ......
... ... ...
(b) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... . ... ... ... ... ... ... ... ..... ..
. ... ... ...
(c) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ...
(d) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
(7) Dalam anekdot tersebut terkandung
konjungsi lalu untuk menyatakan urutan
peristiwa. Konjungsi yang berfungsi
sejenis dengan itu adalah sebagai berikut.
(a) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ...... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ...
(b) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
(c) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... . ... ... ... ... ... ... ... ..... ... ... ... ...
... ... ...
(d) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... . ... ... ...
(8) Dalam anekdot itu terkandung
konjungsi maka untuk menyatakan akibat
perbuatan yang dilakukan oleh seorang
tersangka. Konjungsi yang berfungsi
sejenis dengan itu adalah:
(a) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ...
(b) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ...
(c) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ...
(d) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ...
(9) Fungsi konjungsi dapat digantikan
oleh kata-kata. Sebagai contoh,
konjungsi setelah dapat diungkapkan
dengan sesampainya di hadapan hakim
(paragraf 4). Kata-kata lain seperti itu
pada teks anekdot itu adalah:
(a) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ...
(b) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ...
(c) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... .
.. ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ...
(d) ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ...
... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
. ... ... ...
(10) Dari teks anekdot tersebut, dapatkah
kalian menyimpulkan bahwa orang yang
tidak dapat berdebat di sidang pengadilan
akan kalah? Tunjukkan buktinya pada teks
anekdot tersebut. Apakah keadaan itu
menggambarkan bahwa layanan publik di
bidang hukum belum bagus?
Bacalah teks “Anekdot Hukum Peradilan”
tersebut sekali lagi, kemudian kerjakanlah
tugas-tugas berikut ini!
(1) Buatlah dialog berdasarkan teks
anekdot tersebut.
Teruskan formulasi yang telah dibuat untuk
kalian berikut ini.
Keluarga pemilik pedati: Yang Mulia Hakim,
saya tidak terima keluarga saya kehilangan
pedati beserta kuda dan dagangan di
dalamnya karena jembatan yang dilalui
roboh. Pembuat jembatan itu itu harus
dihukum.
Yang mulia hakim: … … … … … … … … … … … …
… … … … …… … … … … … …
Pembuat jembatan: … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
Yang mulia hakim: … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
Tukang kayu : … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
… … … … … … … … …
Yang mulia hakim: … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … …
Pembantu tinggi dan besar: … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …
Yang mulia hakim: … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … …
Pembantu tinggi dan besar: … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … …… … … … … …

Yang mulia hakim: … … … … … … … … … … … …
… … … … …… … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
Pengawal : … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … …
Yang mulia hakim: … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
Pembantu pendek dan kurus: … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …
Pengawal : … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … … … … … … …
… … … … … … … … … … … … … …… … … … … … …
… … … … … … … … …
Yang mulia hakim: Saudara-saudara,
apakah hukuman penjara untuk pembantu
pendek, kurus, dan punya uang tadi adil?
Masyarakat : Sangat adil, Yang Mulia
Hakim.
(2) Ceritakan ulang dengan bahasa
kalian sendiri isi teks anekdot tersebut.
Teruskan formulasi berikut ini yang telah
dibuat untuk kalian. Seorang kerabat si
Tukang Pedati mengadukan seorang
pembuat jembatan kepada yang mulia
hakim karena jembatan yang dibuatnya
runtuh yang menyebabkan si Tukang
Pedati terjatuh ke sungai dan kehilangan
pedati beserta barang dagangannya. Si
Pembuat Jembatan disalahkan karena
kayu untuk bahan jembatan itu tidak
kuat dan menyebabkan jembatan runtuh.
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … ……… … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … …… … … … … …
… … … … … … … … … … … … … … … … … … …
… … … … …… … … … … … … … … … … … … …